Pernahkan kalian merasa ketika melihat seseorang,
seakan orang itu tidak dapat didekati? Atau mungkin, lebih tepatnya merasa
bahwa diri ini tidak pantas untuk berada di dekatnya?
Pemandangannya yang duduk sendiri di kelas, membaca
buku, memakan bekalnya, seakan menjadi pemandangan mahal dan mewah, dimana kami
para teman sekelasnya tidak berani menghampirinya. Bukan, kami tidak bermaksud
untuk menjauhinya atau benci kepadanya, melainkan kami selalu bertanya kepada
diri sendiri, “pantaskah aku berbicara kepadanya?”
Mungkin bila kita mengacu kepada literatur populer, mereka menyebutnya sebagai primadona. Bahkan dilingkungan murid perempuan, hanya perempuan-perempuan ‘kasta atas’ yang dapat menjadi teman mengobrolnya. Bagaimana dengan murid laki-laki? Berharap dapat menjadi teman mengobrolnya tidak jauh berbeda dengan bermimpi di siang bolong.
Lalu, bagaimana dengan diriku? Tentu saja sudah pasti
tidak mungkin. Maksudku, pada waktu itu, terutama saat pertama kali masuk SMA,
aku memiliki latar belakang—ketika masih SMP—sebagai seorang kutu buku yang
biasa kau temukan sedang membaca komik atau novel Jepang sendirian di kelas.
Bahkan di hari pertama aku menjadi anak SMA pun tidak jauh berberda.
Awalnya aku berpikir seperti itu.
Sampai suatu ketika, entah apa yang aku pikirkan.
“Bolehkah kita kenalan lebih dekat?”
Sial, apa yang kupikirkan waktu itu.
Jujur saja, terkadang aku cukup terkejut dengan
keberanian diriku yang selalu muncul tiba-tiba. Ah, sudahlah. Paling tidak dia
akan benci dan merasa jijik kepadaku karena sudah berani seperti itu.
“Boleh.”
Eh?
Aku benar-benar tidak menyangka akan jawaban itu.
Walaupun kesannya ia sudah memberikan lampu hijau
untuk mengobrol dan berteman, tetapi aku tidak se-naif itu untuk langsung
menjadi dekat dan mengobrol dengannya setiap hari.
Seharusnya sih begitu...
“Pagi Randi,” ucap seorang murid perempuan di depan
bangku ku.
Semenjak itu, aku dan dia selalu mengobrol. Makin lama
kami pun semakin dekat. Rupanya, ia juga memiliki ketertarikan sendiri dengan
buku-buku dan komik yang suka aku baca. Dan di saat yang sama, ternyata ia juga
suka mendengarkan lagu yang sering aku dengarkan.
Selain itu, ia juga mengajarkan banyak hal kepada ku
tentang dunia di luar sekedar novel dan komik. Bagaimana rasanya pulang sekolah
bersama, jalan-jalan berkeliling kota, hingga belajar bersama sebelum ujian.
Ya, singkat cerita, seperti perkembangan kisah-kisah
di SMA lainnya, kami pun mulai berpacaran. Aku ingat sekali, awal kami
berpacaran rasa percaya diriku seperti tidak ada. Maksudku, dia dulu terkenal
sebagai perempuan yang sulit didekati, tetapi sekarang aku berpacaran
dengannya. Namun, untungnya ia selalu meyakinkan aku bahwa ini semua tidak apa.
Semakin lama kami berpacaran, semakin pula kami
mengenal satu sama lain.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, dan terus begitu
hingga akhirnya kami lulus dari SMA dan masuk perkuliahan.
Sayangnya, kami harus terpisah oleh jarak dikarenakan
lokasi kampus kami yang berbeda.
Walaupun begitu, kami masih cukup sering menyempatkan
bertemu dan berkomunikasi.
Aku pun berpikir, kami masih dapat terus berlanjut,
mungkin hingga tahap yang serius.
Nyatanya, hanya aku yang berpikir seperti itu diantara
kami berdua.
Seperti yang selalu mereka bilang, bila sesuatu
terlalu indah untuk menjadi kenyataan, maka hal tersebut memang terlalu indah
untuk menjadi kenyataan.
Takdir berkata lain. Kami pun memutuskan untuk
mengakhiri hubungan kami.
“Sesuatu yang dimulai, akan ada akhirnya.”
Begitulah kira-kira alasan yang ia berikan kepadaku.
Entah apa mungkin ada alasan lain dibalik itu, aku tidak peduli. Karena bagiku,
alasan singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kenapa hubungan
kami harus berakhir. Namun, rupanya ia belum selesai berbicara.
“Kalau takdir mengizinkan, kita pasti akan kembali
bertemu. Jujur saja, aku iri dengan perempuan yang akan bertemu dengan dirimu
setelah ini. Dirimu yang lebih dewasa dan lebih baik daripada lima tahun yang
lalu—kali kita pertama bertemu.”
Setelah ia mengatakan semua itu, aku kembali tersadar
akan betapa tidak pantasnya aku berada di sisinya. Diriku yang masih ia anggap
kekanak-kanakan, belum cukup tumbuh dewasa, rupanya memang tidak pantas berada
di samping dirinya yang sudah jauh tumbuh menjadi dewasa.
Hingga sekarang, aku masih mengagumi dirinya sebagai
perempuan yang dewasa. Walaupun harus kuakui, aku sudah tidak pernah
berhubungan atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Selain adanya perasaan tidak
enak—karena dia adalah mantanku—tetapi juga rasa rendah diri ini yang selalu
menekanku apabila sudah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengannya.
Pada akhirnya, sesuatu yang tidak bisa tercapai tidak
akan pernah tercapai.
Ya, bisa dibilang itu adalah sekilas cuplikan masa
remaja ku. Hanya seorang anak SMA yang naif merasakan rasanya pertama kali
berpacaran—merasakan senangnya bermesraan dan juga pahitnya perpisahan. Mungkin
muncul pertanyaan, kenapa tiba-tiba aku mengingat-ngingat kembali masa lalu percintaanku
saat SMA?
Bisa dibilang, pemandangan di hadapanku saat ini
adalah jawabannya.
Gadis SMA yang sedang duduk, membaca isi buku
catatannya, sambil mengayun-ayunkan kakinya. Entah kenapa, ketika aku
melihatnya seperti ini, ia memberikan bayang-bayang akan perempuan itu.
“Om?”
“—Ah!”
Entah berapa lama aku sudah melamun ke arah Anita,
sampai-sampai aku tidak sadar bahwa ia memanggilku.
“Om gak mau duduk?” Ucap Anita seraya menepuk
tempat kosong di sebelahnya.
Aku pun segera duduk di sebelahnya, berusaha untuk
bersikap biasa saja. Semoga ia tidak sadar kalau dari tadi aku menatapnya
begitu lama.
Mungkin, tidak peduli ruang dan waktu, semua gadis SMA
memiliki satu kesamaan unik yang hanya dapat dimiliki oleh mereka—mereka selalu
menyimpan rahasia dibalik ragam tingkah lakunya.
***
“Om Randi, dulu waktu masih SMA pernah ngalamin
pengalaman cinta gak?”
“Eh?”
Waduh, tiba-tiba aku ditanya seperti ini. Aku cukup
senang waktu ia sempat menanyakan tentang masa SMA ku, tapi tidak kusangka ia
akan langsung bertanya tentang percintaan.
“Uh... Ya mungkin bisa kubilang cukup biasa. Maksudku,
itu hanya kisah cinta SMA seperti pada umumnya yang biasa ditemukan dimana saja.”
Mendengar jawabanku, Anita tertegun. Ia seperti sedang
memikirkan sesuatu.
Tidak lama, ia kembali bertanya.
“Memangnya, percintaan di SMA yang normal itu yang
seperti apa?”
Di saat itu, aku terdiam. Aku tidak tahu harus
bagaimana merespon pertanyaan tersebut.
Jika kau bertanya kepadaku, aku akan menjawab, kisah
cinta yang berawal dari teman yang menemukan kesamaan dalam diri masing-masing
lalu menjadi pasangan.
Tapi, tunggu dulu.
Apakah itu sudah termasuk normal?
Apakah yang aku anggap normal juga sama dengan yang
orang lain anggap normal?
“Jujur saja, aku sendiri bingung. Kisah cinta seperti apa
yang dapat disebut normal atau tidak normal.”
Anita menatapku seperti menanti-nanti jawaban yang ia
inginkan.
“Namun, bila kau bertanya padaku, maka bisa kukatakan
kisah cinta yang normal adalah kisah mereka yang dimulai dengan mengetahui
bahwa suatu saat nanti kisah mereka akan sampai pada bagian epilog.”
“...epilog?”
“Semua yang dimulai, pastinya akan berakhir.”
Itulah kata-kata terakhir dari jawabanku. Setelahnya,
aku hanya tersenyum kepada Anita. Namun, Anita seakan masih terlihat tidak
puas.
“Tapi Om, kalau semua orang tahu bahwa pada akhirnya
kisah mereka akan tiba pada akhir cerita, kenapa mereka masih tetap ingin memulainya?
Bukankah, mengakhiri cerita di tengah jalan akan menghancurkan mereka yang
menjalani kisah cintanya?”
Aku terkejut dengan pertanyaan itu.
“Maksud kamu?”
“Maksudku, berakhirnya sebuah hubungan, berakhirnya
sebuah kisah cinta, itu karena mereka sangat jelek dalam menjalani
hubungan itu kan?”
Eh? Aku baru tahu soal ini.
“Uh... Apa yang membuat kamu berpikir kayak gitu?”
Anita menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya,
seakan bersiap untuk mengeluarkan sesuatu yang cukup berat bagi dirinya.
“Aku... Sudah tidak bisa percaya, dengan yang namanya ‘kisah
cinta di SMA’.”
Ah, sekarang aku mengerti. Pasti sesuatu terjadi di
dalam pengalaman cinta nya di SMA.
“Maksudku, kalau dengan merasakan asmara di sekolah
dapat menyebabkan kita kehilangan teman dan kepercayaan orang-orang, aku lebih
memilih untuk tidak pernah merasakan rasa cinta itu.”
Tangan Anita bergemetar seakan menahan sesuatu dari
dirinya.
“Cinta, asmara, bucin, dunia milik berdua,
SEMUANYA BOHONG!”
Anita berteriak sambil menghentakkan kakinya. Tak lama,
air mata pun mentes dari wajahnya.
Ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya.
“Apanya yang teman mendukung percintaan temannya?
Apanya yang soal cinta pandangan pertama? Semua itu gak berguna kalau
pada akhirnya aku kehilangan harga diri dan kehidupan SMA ku yang seharusnya
aku dapatkan.
Tubuhnya gemetar, pelan-pelan aku mendengar suara isak
tangisnya.
“Andaikan... andaikan... andaikan saja saat itu, aku
tidak berpacaran. Andai saja, saat itu aku tidak berpacaran dengan lelaki itu,
aku pasti tidak akan kehilangan kepercayaan sahabat-sahabatku. Tidak, aku tidak
akan kehilangan kehidupan normal SMA seperti anak-anak lainnya.”
“Anita...”
Saat ini aku yakin, bahwa telah terjadi sesuatu yang
cukup buruk di dalam kehidupan SMA Anita. Jujur saja, aku sendiri tidak tahu
harus berkata apa di saat seperti ini. Untungnya, saat ini stasiun sedang sepi
sekali jadi Anita tidak terlalu mengundang banyak perhatian.
“Mungkin...”
Perlahan, Anita menghadap ke arah ku. Aku bisa melihat
tetesan air mata beserta bekasnya di wajahnya.
“Mungkin, bila aku terlahir lebih dulu, seumuran
dengan Om, dan masuk ke SMA yang sama seperti Om. Kehidupan ku... kehidupan SMA
ku tidak akan seburuk ini.”
Perkataan yang diikuti oleh senyuman serta tetes air
mata. Aku tidak pernah berpikir, serta tidak percaya bahwa seorang gadis SMA
baru saja mengatakan hal seperti itu kepadaku.
Perasaan apa ini...
Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang mengganjal
di hatiku.
Suatu perasaan yang rasanya pernah aku rasakan di masa
yang lalu.
Jujur saja, aku tidak mau terlalu mengasumsikan banyak
hal tentang kehidupan SMA anak ini.
Tapi...
Apakah ini yang harus aku pikirkan sekarang?
Tidak. Sekarang, ada hal lebih penting yang harus aku
lakukan.
Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa bahwa pemandangan
di depanku sedikit familiar. Dan karena kefamiliaran tersebut, aku melakukan
hal yang tidak pernah kusangka akan kulakukan.
Tangan ku bergerak dengan sendirinya, mengusap air
mata dari wajahnya.
Aku bisa melihat Anita mengeluarkan eskpresi sedikit terkejut.
Namun, setelah itu, senyuman kecil muncul di wajahnya.
Belum sempat aku menarik kembali tanganku, ia memegang
tanganku yang masih mengusap air matanya, lalu ia mengarahkan ke pipinya. Ia
pun memejamkan matanya.
Dan tanpa kusadari, ia tersenyum.
Tersenyum dengan senyuman yang paling tulus, dan
paling menenangkan yang pernah aku lihat.
Perlahan, ia membuka mulutnya.
“Aku tidak berbohong, ketika aku berharap aku seumuran
dengan Om dan bersekolah di tempat yang sama.”
Malam itu menjadi malam yang panjang, bahkan saat tiba
di rumah pun, aku tidak dapat tertidur karena kehangatan yang masih terasa di
tanganku.
Tapi, wajahnya saat sedang menangis... Dimana ya aku
pernah melihatnya?
***
Malam itu, Anita duduk di bangku peron seperti biasa. Aku
yang melihatnya dan teringat akan kejadian kemarin sedikit segan untuk
mendekati.
Ah sudahlah, tidak perlu terlalu dipusingkan.
Berusaha untuk tidak memikirkan terlalu jauh, aku
memutuskan untuk duduk seperti biasanya. Maksudku, setidaknya aku sebagai
satu-satunya orang dewasa di sini harus bisa bertindak secara dewasa.
Anita yang sedang mendengarkan musik menggunakan earbuds
menyadari aku yang baru saja duduk. Ia pun melepas kedua benda itu dari
telinganya dan menyapaku.
“Malam, Om.”
Ia tersenyum seperti biasa, seakan kejadian kemarin
malam hanyalah mimpi yang tidak pernah terjadi.
“Eh, Malam.”
Keadaan menjadi hening seperti semula.
Sial, canggung sekali!
Entah kenapa keadaan saat ini kembali menjadi seperti
saat kami pertama kali bertemu. Canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Aku sedari
tadi hanya scrolling isi ponsel ku—padahal tidak ada info penting—sambil
berusaha untuk mengalihkan fokusku dari Anita.
Seakan dapat merasakan kegelisahanku, Anita membuka
mulutnya.
“Om, soal kemarin...”
“Ah! Oh, umm...”
Kami berdua terdiam.
“A-aku minta maaf karena terbawa emosi.”
Wajah Anita kembali menjadi lebih rileks.
“I-iya tidak apa-apa kok. Mungkin kemarin kamu sedang
agak capek.”
“Ahaha... iya mungkin saja...”
Lagi-lagi, keadaan menjadi hening.
Ayolah! Coba cari topik pembicaraan. Eh, sebenarnya
aku ada sih, tapi aku tidak tahu apakah ini pantas untuk ditanyakan mengingat
apa yang baru saja terjadi kemarin. Baiklah, kita coba saja.
“Um... kalau aku boleh tahu, apakah sesuatu terjadi di
sekolahmu?”
Sial! Aku benar-benar menanyakannya.
Anita terkejut mendengar pertanyaanku tersebut. Lalu ia
menundukkan kepalanya, seakan sedang menahan sesuatu.
Tuh kan, aku kayaknya udah nginjek ranjau.
Tiba-tiba, Anita menghela nafasnya dengan panjang.
“Benar-benar ya, pada akhirnya Om akan tetap menjadi
Om.”
Setelah mengatakan hal itu, ia terkekeh kecil sambil
menutup mulutnya dengan tangan.
Eh? Dia gak marah?
“Tenang aja Om, aku yakin Om nanya itu bukan karena sengaja
untuk bikin aku kesal atau semacamnya. Ya bisa dibilang, dari dulu Om memang—
maksudku, wajar saja karena kita juga tidak sedekat itu sampai Om bisa tahu apa
yang aku rasa.”
“Tunggu dulu. Tadi kamu bilang—“
“Jadi Om beneran mau tahu apa yang terjadi di sekolah?”
Sepertinya tadi aku sedikit mendengar informasi
penting yang terpotong. Tapi ya sudahlah, untuk saat ini hal itu tidak terlalu
penting. Yang penting adalah aku penasaran dengan apa yang terjadi kepada Anita
di sekolahnya.
“Iya, kalau kamu tidak keberatan.”
Anita pun mulai bercerita.
Ia mengatakan bahwa, karena janji yang ia buat pada
seseorang, ia bersumpah akan merubah dirinya—menjadi lebih baik dari saat SMP. Rupanya,
ketika ia SMP, kehidupan yang ia jalani tidak begitu baik, terutama hubungan
antara ia dan orang tuanya. Karena itu, ia berusaha untuk menjalani kehidupan
SMA nya dengan sangat baik agar dapat pula memperbaiki hubungannya dengan orang
tuanya.
Pada awalnya, kehidupan Anita di SMA cukup biasa-biasa
saja. Ia memiliki teman layaknya anak-anak yang lain, dan dulu ia biasa pulang
saat jam sekolah berakhir—seperti anak
SMA yang normal.
Rupanya, pada saat itu Anita termasuk di dalam kalangan
perempuan yang populer di kalangan murid laki-laki. Tidak hanya teman
seangkatannya, tetapi senior-senior nya di sekolah banyak yang tertarik kepada
Anita.
Anita sendiri tidak familiar dengan konsep berpacaran
di SMA. Namun, salah satu teman yang ada di lingkar pertemanannya memberitahu
bahwa berpacaran juga salah satu bentuk gaya hidup di SMA.
Singkat cerita, ada seorang senior yang menyatakan
perasaannya pada Anita. Saat itu, untuk pertama kalinya Anita merasa senang
sekali karena dicintai. Wajar saja, mungkin karena hubungannya yang kurang baik
dengan orang tuanya, ketika ia mendapatkan afeksi dari lawan jenis maka ia akan
langsung menjadi bucin.
Mereka pun berpacaran dengan normal. Jujur aku cukup
terkejut. Awalnya aku mengira bahwa ceritanya akan lebih kacau atau semacamnya.
Nyatanya, ia juga menjalani hari-harinya seperti gadis SMA pada umumnya.
Namun, betapa salahnya aku karena mengambil kesimpulan
terlalu cepat.
Rupanya, salah satu teman perempuan senior yang
memacari Anita tidak senang dengan fakta bahwa mereka berdua berpacaran. Hingga
akhirnya, ia menyebarkan rumor yang menyudutkan Anita.
Ya, aku cukup dapat menebak bahwa lingkungan sosial
murid perempuan di SMA cukup kompleks dan sangat menyeramkan. Tetapi, setelah
mendengar kelanjutan ceritanya, aku sadar bahwa ini bukan hanya tentang keirian
antar murid perempuan biasa.
Suatu ketika Anita berduaan dengan pacarnya di salah
satu taman kota yang tidak jauh dari sekolah. Saat itu hari sudah mulai malam,
tetapi Anita memutuskan untuk curhat kepada pacarnya tentang masalah itu. Pada awalnya,
pacarnya berusaha untuk menenangkan Anita, ia mengatakan bahwa dirinya akan
selalu ada di sisi Anita, dan Anita pun termakan kata-kata itu.
Entah apa yang ada di pikiran pacarnya itu, tiba-tiba
ia memegang wajah Anita dan berusaha menciumnya. Dengan reflek, Anita mendorong
pacarnya itu hingga terjatuh karena sangat terkejut.
Dan dari sinilah, seluruh bencana dimulai.
Esok harinya, suasana semakin buruk. Mulai banyak
orang berani mengatakan hal-hal yang tidak pantas terhadap Anita. Bahkan, kali
ini dari kalangan senior tidak hanya satu atau dua orang, tetapi jadi makin
banyak yang ikut membenci Anita. Ia bingung, kenapa menjadi semakin banyak dan
seakan-akan fitnah yang dibuat semakin parah.
Rupanya, pacar Anita lah penyebabnya.
Sore itu, ia meminta Anita untuk menemuinya di taman kota
yang sama. Entah apa yang ada di pikirannya, menurutnya ia tidak memiliki
pilihan lain.
Dan yang lebih parah lagi, ia mengatakan bahwa ia akan
menghentikan rumor tersebut, apabila Anita mau melakukan ‘sesuatu’ untuknya.
Tubuh Anita gemetar. Ia tidak percaya bahwa pacarnya
sendiri yang mengatakan hal ini. pacar yang pada awalnya ia kira akan ada di
sisinya, rupanya mengkhianatinya begitu saja hanya karena tidak bisa menahan
nafsunya.
Sampah, gumamku.
Semenjak hari itu, Anita menjadi bulan-bulanan dan bahan
pergunjingan di sekolahnya hingga hari ini. Semenjak itu pula Anita memutuskan
untuk pulang larut malam, mencari tempat dimana ia dapat sendirian menghabiskan
waktu.
Setelah menceritakan semua itu, Anita tertunduk.
“Aku... gagal menepati janji yang aku buat dengan
orang itu.”
Ah, sekarang aku paham. Mengapa saat kemarin aku
mengatakan tentang ‘kisah cinta yang normal’ ia cukup terlihat kebingungan. Tentu
saja, pengalaman yang dialami oleh Anita tidak bisa aku bilang sebagai sesuatu
yang ‘normal’.
Sebenarnya aku cukup penasaran, siapakah orang yang Anita
maksud. Apakah ia orang yang sepenting itu sampai-sampai ia tidak ingin
mengecewakannya?
“Anita.”
Anita yang sedari tadi menunduk akhirnya menatap ke
arah ku.
“Aku tidak tahu siapa orang yang kamu buat janji
dengannya. Tapi, aku yakin akan satu hal.”
Aku menatap balik Anita dan tersenyum.
“Kalau kamu memang benar sudah berusaha melakukannya,
tetapi tidak dapat hasil yang kau inginkan. Mengetahui bahwa kamu berusaha
menepati janjinya saja, aku yakin orang itu sudah sangat senang.”
Anita hanya menatapku tanpa kata-kata.
Tak lama, ia tertawa kecil.
Entah apa yang ia tertawakan, aku pun ikut tertawa
untuk meringankan suasana.
“Sudah kuduga, kapanpun dan dimana pun, Om akan tetap
jadi Om.”
Dan ya, dia lagi-lagi mengatakan hal tersebut yang
entah dari mana datangnya.
Tapi tidak apa. Aku sudah cukup terbiasa dengan sisi
misterius dari gadis ini. Karena, aku merasa malam hari ketika menunggu kereta
terakhir menjadi terasa lebih hidup ketika aku duduk di sebelah gadis ini—gadis
SMA yang menyimpan banyak misteri yang tidak dapat aku pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar