Selasa, 20 Agustus 2024

Gadis SMA dan Rahasianya - Chapter 4

Pernahkan kalian merasa ketika melihat seseorang, seakan orang itu tidak dapat didekati? Atau mungkin, lebih tepatnya merasa bahwa diri ini tidak pantas untuk berada di dekatnya?

Pemandangannya yang duduk sendiri di kelas, membaca buku, memakan bekalnya, seakan menjadi pemandangan mahal dan mewah, dimana kami para teman sekelasnya tidak berani menghampirinya. Bukan, kami tidak bermaksud untuk menjauhinya atau benci kepadanya, melainkan kami selalu bertanya kepada diri sendiri, “pantaskah aku berbicara kepadanya?”

Mungkin bila kita mengacu kepada literatur populer, mereka menyebutnya sebagai primadona. Bahkan dilingkungan murid perempuan, hanya perempuan-perempuan ‘kasta atas’ yang dapat menjadi teman mengobrolnya. Bagaimana dengan murid laki-laki? Berharap dapat menjadi teman mengobrolnya tidak jauh berbeda dengan bermimpi di siang bolong.

Lalu, bagaimana dengan diriku? Tentu saja sudah pasti tidak mungkin. Maksudku, pada waktu itu, terutama saat pertama kali masuk SMA, aku memiliki latar belakang—ketika masih SMP—sebagai seorang kutu buku yang biasa kau temukan sedang membaca komik atau novel Jepang sendirian di kelas. Bahkan di hari pertama aku menjadi anak SMA pun tidak jauh berberda.

Awalnya aku berpikir seperti itu.

Sampai suatu ketika, entah apa yang aku pikirkan.

“Bolehkah kita kenalan lebih dekat?”

Sial, apa yang kupikirkan waktu itu.

Jujur saja, terkadang aku cukup terkejut dengan keberanian diriku yang selalu muncul tiba-tiba. Ah, sudahlah. Paling tidak dia akan benci dan merasa jijik kepadaku karena sudah berani seperti itu.

“Boleh.”

Eh?

Aku benar-benar tidak menyangka akan jawaban itu.

Walaupun kesannya ia sudah memberikan lampu hijau untuk mengobrol dan berteman, tetapi aku tidak se-naif itu untuk langsung menjadi dekat dan mengobrol dengannya setiap hari.

Seharusnya sih begitu...

“Pagi Randi,” ucap seorang murid perempuan di depan bangku ku.

Semenjak itu, aku dan dia selalu mengobrol. Makin lama kami pun semakin dekat. Rupanya, ia juga memiliki ketertarikan sendiri dengan buku-buku dan komik yang suka aku baca. Dan di saat yang sama, ternyata ia juga suka mendengarkan lagu yang sering aku dengarkan.

Selain itu, ia juga mengajarkan banyak hal kepada ku tentang dunia di luar sekedar novel dan komik. Bagaimana rasanya pulang sekolah bersama, jalan-jalan berkeliling kota, hingga belajar bersama sebelum ujian.

Ya, singkat cerita, seperti perkembangan kisah-kisah di SMA lainnya, kami pun mulai berpacaran. Aku ingat sekali, awal kami berpacaran rasa percaya diriku seperti tidak ada. Maksudku, dia dulu terkenal sebagai perempuan yang sulit didekati, tetapi sekarang aku berpacaran dengannya. Namun, untungnya ia selalu meyakinkan aku bahwa ini semua tidak apa.

Semakin lama kami berpacaran, semakin pula kami mengenal satu sama lain.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, dan terus begitu hingga akhirnya kami lulus dari SMA dan masuk perkuliahan.

Sayangnya, kami harus terpisah oleh jarak dikarenakan lokasi kampus kami yang berbeda.

Walaupun begitu, kami masih cukup sering menyempatkan bertemu dan berkomunikasi.

Aku pun berpikir, kami masih dapat terus berlanjut, mungkin hingga tahap yang serius.

Nyatanya, hanya aku yang berpikir seperti itu diantara kami berdua.

Seperti yang selalu mereka bilang, bila sesuatu terlalu indah untuk menjadi kenyataan, maka hal tersebut memang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Takdir berkata lain. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.

“Sesuatu yang dimulai, akan ada akhirnya.”

Begitulah kira-kira alasan yang ia berikan kepadaku. Entah apa mungkin ada alasan lain dibalik itu, aku tidak peduli. Karena bagiku, alasan singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kenapa hubungan kami harus berakhir. Namun, rupanya ia belum selesai berbicara.

“Kalau takdir mengizinkan, kita pasti akan kembali bertemu. Jujur saja, aku iri dengan perempuan yang akan bertemu dengan dirimu setelah ini. Dirimu yang lebih dewasa dan lebih baik daripada lima tahun yang lalu—kali kita pertama bertemu.”

Setelah ia mengatakan semua itu, aku kembali tersadar akan betapa tidak pantasnya aku berada di sisinya. Diriku yang masih ia anggap kekanak-kanakan, belum cukup tumbuh dewasa, rupanya memang tidak pantas berada di samping dirinya yang sudah jauh tumbuh menjadi dewasa.

Hingga sekarang, aku masih mengagumi dirinya sebagai perempuan yang dewasa. Walaupun harus kuakui, aku sudah tidak pernah berhubungan atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Selain adanya perasaan tidak enak—karena dia adalah mantanku—tetapi juga rasa rendah diri ini yang selalu menekanku apabila sudah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengannya.

Pada akhirnya, sesuatu yang tidak bisa tercapai tidak akan pernah tercapai.

Ya, bisa dibilang itu adalah sekilas cuplikan masa remaja ku. Hanya seorang anak SMA yang naif merasakan rasanya pertama kali berpacaran—merasakan senangnya bermesraan dan juga pahitnya perpisahan. Mungkin muncul pertanyaan, kenapa tiba-tiba aku mengingat-ngingat kembali masa lalu percintaanku saat SMA?

Bisa dibilang, pemandangan di hadapanku saat ini adalah jawabannya.

Gadis SMA yang sedang duduk, membaca isi buku catatannya, sambil mengayun-ayunkan kakinya. Entah kenapa, ketika aku melihatnya seperti ini, ia memberikan bayang-bayang akan perempuan itu.

“Om?”

“—Ah!”

Entah berapa lama aku sudah melamun ke arah Anita, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa ia memanggilku.

“Om gak mau duduk?” Ucap Anita seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Aku pun segera duduk di sebelahnya, berusaha untuk bersikap biasa saja. Semoga ia tidak sadar kalau dari tadi aku menatapnya begitu lama.

Mungkin, tidak peduli ruang dan waktu, semua gadis SMA memiliki satu kesamaan unik yang hanya dapat dimiliki oleh mereka—mereka selalu menyimpan rahasia dibalik ragam tingkah lakunya.

 

***

 

“Om Randi, dulu waktu masih SMA pernah ngalamin pengalaman cinta gak?”

“Eh?”

Waduh, tiba-tiba aku ditanya seperti ini. Aku cukup senang waktu ia sempat menanyakan tentang masa SMA ku, tapi tidak kusangka ia akan langsung bertanya tentang percintaan.

“Uh... Ya mungkin bisa kubilang cukup biasa. Maksudku, itu hanya kisah cinta SMA seperti pada umumnya yang biasa ditemukan dimana saja.”

Mendengar jawabanku, Anita tertegun. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Tidak lama, ia kembali bertanya.

“Memangnya, percintaan di SMA yang normal itu yang seperti apa?”

Di saat itu, aku terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana merespon pertanyaan tersebut.

Jika kau bertanya kepadaku, aku akan menjawab, kisah cinta yang berawal dari teman yang menemukan kesamaan dalam diri masing-masing lalu menjadi pasangan.

Tapi, tunggu dulu.

Apakah itu sudah termasuk normal?

Apakah yang aku anggap normal juga sama dengan yang orang lain anggap normal?

“Jujur saja, aku sendiri bingung. Kisah cinta seperti apa yang dapat disebut normal atau tidak normal.”

Anita menatapku seperti menanti-nanti jawaban yang ia inginkan.

“Namun, bila kau bertanya padaku, maka bisa kukatakan kisah cinta yang normal adalah kisah mereka yang dimulai dengan mengetahui bahwa suatu saat nanti kisah mereka akan sampai pada bagian epilog.”

“...epilog?”

“Semua yang dimulai, pastinya akan berakhir.”

Itulah kata-kata terakhir dari jawabanku. Setelahnya, aku hanya tersenyum kepada Anita. Namun, Anita seakan masih terlihat tidak puas.

“Tapi Om, kalau semua orang tahu bahwa pada akhirnya kisah mereka akan tiba pada akhir cerita, kenapa mereka masih tetap ingin memulainya? Bukankah, mengakhiri cerita di tengah jalan akan menghancurkan mereka yang menjalani kisah cintanya?”

Aku terkejut dengan pertanyaan itu.

“Maksud kamu?”

“Maksudku, berakhirnya sebuah hubungan, berakhirnya sebuah kisah cinta, itu karena mereka sangat jelek dalam menjalani hubungan itu kan?”

Eh? Aku baru tahu soal ini.

“Uh... Apa yang membuat kamu berpikir kayak gitu?”

Anita menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, seakan bersiap untuk mengeluarkan sesuatu yang cukup berat bagi dirinya.

“Aku... Sudah tidak bisa percaya, dengan yang namanya ‘kisah cinta di SMA’.”

Ah, sekarang aku mengerti. Pasti sesuatu terjadi di dalam pengalaman cinta nya di SMA.

“Maksudku, kalau dengan merasakan asmara di sekolah dapat menyebabkan kita kehilangan teman dan kepercayaan orang-orang, aku lebih memilih untuk tidak pernah merasakan rasa cinta itu.”

Tangan Anita bergemetar seakan menahan sesuatu dari dirinya.

“Cinta, asmara, bucin, dunia milik berdua, SEMUANYA BOHONG!”

Anita berteriak sambil menghentakkan kakinya. Tak lama, air mata pun mentes dari wajahnya.

Ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Apanya yang teman mendukung percintaan temannya? Apanya yang soal cinta pandangan pertama? Semua itu gak berguna kalau pada akhirnya aku kehilangan harga diri dan kehidupan SMA ku yang seharusnya aku dapatkan.

Tubuhnya gemetar, pelan-pelan aku mendengar suara isak tangisnya.

“Andaikan... andaikan... andaikan saja saat itu, aku tidak berpacaran. Andai saja, saat itu aku tidak berpacaran dengan lelaki itu, aku pasti tidak akan kehilangan kepercayaan sahabat-sahabatku. Tidak, aku tidak akan kehilangan kehidupan normal SMA seperti anak-anak lainnya.”

“Anita...”

Saat ini aku yakin, bahwa telah terjadi sesuatu yang cukup buruk di dalam kehidupan SMA Anita. Jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus berkata apa di saat seperti ini. Untungnya, saat ini stasiun sedang sepi sekali jadi Anita tidak terlalu mengundang banyak perhatian.

“Mungkin...”

Perlahan, Anita menghadap ke arah ku. Aku bisa melihat tetesan air mata beserta bekasnya di wajahnya.

“Mungkin, bila aku terlahir lebih dulu, seumuran dengan Om, dan masuk ke SMA yang sama seperti Om. Kehidupan ku... kehidupan SMA ku tidak akan seburuk ini.”

Perkataan yang diikuti oleh senyuman serta tetes air mata. Aku tidak pernah berpikir, serta tidak percaya bahwa seorang gadis SMA baru saja mengatakan hal seperti itu kepadaku.

Perasaan apa ini...

Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang mengganjal di hatiku.

Suatu perasaan yang rasanya pernah aku rasakan di masa yang lalu.

Jujur saja, aku tidak mau terlalu mengasumsikan banyak hal tentang kehidupan SMA anak ini.

Tapi...

Apakah ini yang harus aku pikirkan sekarang?

Tidak. Sekarang, ada hal lebih penting yang harus aku lakukan.

Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa bahwa pemandangan di depanku sedikit familiar. Dan karena kefamiliaran tersebut, aku melakukan hal yang tidak pernah kusangka akan kulakukan.

Tangan ku bergerak dengan sendirinya, mengusap air mata dari wajahnya.

Aku bisa melihat Anita mengeluarkan eskpresi sedikit terkejut. Namun, setelah itu, senyuman kecil muncul di wajahnya.

Belum sempat aku menarik kembali tanganku, ia memegang tanganku yang masih mengusap air matanya, lalu ia mengarahkan ke pipinya. Ia pun memejamkan matanya.

Dan tanpa kusadari, ia tersenyum.

Tersenyum dengan senyuman yang paling tulus, dan paling menenangkan yang pernah aku lihat.

Perlahan, ia membuka mulutnya.

“Aku tidak berbohong, ketika aku berharap aku seumuran dengan Om dan bersekolah di tempat yang sama.”

Malam itu menjadi malam yang panjang, bahkan saat tiba di rumah pun, aku tidak dapat tertidur karena kehangatan yang masih terasa di tanganku.

Tapi, wajahnya saat sedang menangis... Dimana ya aku pernah melihatnya?

 

***

 

Malam itu, Anita duduk di bangku peron seperti biasa. Aku yang melihatnya dan teringat akan kejadian kemarin sedikit segan untuk mendekati.

Ah sudahlah, tidak perlu terlalu dipusingkan.

Berusaha untuk tidak memikirkan terlalu jauh, aku memutuskan untuk duduk seperti biasanya. Maksudku, setidaknya aku sebagai satu-satunya orang dewasa di sini harus bisa bertindak secara dewasa.

Anita yang sedang mendengarkan musik menggunakan earbuds menyadari aku yang baru saja duduk. Ia pun melepas kedua benda itu dari telinganya dan menyapaku.

“Malam, Om.”

Ia tersenyum seperti biasa, seakan kejadian kemarin malam hanyalah mimpi yang tidak pernah terjadi.

“Eh, Malam.”

Keadaan menjadi hening seperti semula.

Sial, canggung sekali!

Entah kenapa keadaan saat ini kembali menjadi seperti saat kami pertama kali bertemu. Canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Aku sedari tadi hanya scrolling isi ponsel ku—padahal tidak ada info penting—sambil berusaha untuk mengalihkan fokusku dari Anita.

Seakan dapat merasakan kegelisahanku, Anita membuka mulutnya.

“Om, soal kemarin...”

“Ah! Oh, umm...”

Kami berdua terdiam.

“A-aku minta maaf karena terbawa emosi.”

Wajah Anita kembali menjadi lebih rileks.

“I-iya tidak apa-apa kok. Mungkin kemarin kamu sedang agak capek.”

“Ahaha... iya mungkin saja...”

Lagi-lagi, keadaan menjadi hening.

Ayolah! Coba cari topik pembicaraan. Eh, sebenarnya aku ada sih, tapi aku tidak tahu apakah ini pantas untuk ditanyakan mengingat apa yang baru saja terjadi kemarin. Baiklah, kita coba saja.

“Um... kalau aku boleh tahu, apakah sesuatu terjadi di sekolahmu?”

Sial! Aku benar-benar menanyakannya.

Anita terkejut mendengar pertanyaanku tersebut. Lalu ia menundukkan kepalanya, seakan sedang menahan sesuatu.

Tuh kan, aku kayaknya udah nginjek ranjau.

Tiba-tiba, Anita menghela nafasnya dengan panjang.

“Benar-benar ya, pada akhirnya Om akan tetap menjadi Om.”

Setelah mengatakan hal itu, ia terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Eh? Dia gak marah?

“Tenang aja Om, aku yakin Om nanya itu bukan karena sengaja untuk bikin aku kesal atau semacamnya. Ya bisa dibilang, dari dulu Om memang— maksudku, wajar saja karena kita juga tidak sedekat itu sampai Om bisa tahu apa yang aku rasa.”

“Tunggu dulu. Tadi kamu bilang—“

“Jadi Om beneran mau tahu apa yang terjadi di sekolah?”

Sepertinya tadi aku sedikit mendengar informasi penting yang terpotong. Tapi ya sudahlah, untuk saat ini hal itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah aku penasaran dengan apa yang terjadi kepada Anita di sekolahnya.

“Iya, kalau kamu tidak keberatan.”

Anita pun mulai bercerita.

Ia mengatakan bahwa, karena janji yang ia buat pada seseorang, ia bersumpah akan merubah dirinya—menjadi lebih baik dari saat SMP. Rupanya, ketika ia SMP, kehidupan yang ia jalani tidak begitu baik, terutama hubungan antara ia dan orang tuanya. Karena itu, ia berusaha untuk menjalani kehidupan SMA nya dengan sangat baik agar dapat pula memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya.

Pada awalnya, kehidupan Anita di SMA cukup biasa-biasa saja. Ia memiliki teman layaknya anak-anak yang lain, dan dulu ia biasa pulang saat jam sekolah berakhir—seperti  anak SMA yang normal.

Rupanya, pada saat itu Anita termasuk di dalam kalangan perempuan yang populer di kalangan murid laki-laki. Tidak hanya teman seangkatannya, tetapi senior-senior nya di sekolah banyak yang tertarik kepada Anita.

Anita sendiri tidak familiar dengan konsep berpacaran di SMA. Namun, salah satu teman yang ada di lingkar pertemanannya memberitahu bahwa berpacaran juga salah satu bentuk gaya hidup di SMA.

Singkat cerita, ada seorang senior yang menyatakan perasaannya pada Anita. Saat itu, untuk pertama kalinya Anita merasa senang sekali karena dicintai. Wajar saja, mungkin karena hubungannya yang kurang baik dengan orang tuanya, ketika ia mendapatkan afeksi dari lawan jenis maka ia akan langsung menjadi bucin.

Mereka pun berpacaran dengan normal. Jujur aku cukup terkejut. Awalnya aku mengira bahwa ceritanya akan lebih kacau atau semacamnya. Nyatanya, ia juga menjalani hari-harinya seperti gadis SMA pada umumnya.

Namun, betapa salahnya aku karena mengambil kesimpulan terlalu cepat.

Rupanya, salah satu teman perempuan senior yang memacari Anita tidak senang dengan fakta bahwa mereka berdua berpacaran. Hingga akhirnya, ia menyebarkan rumor yang menyudutkan Anita.

Ya, aku cukup dapat menebak bahwa lingkungan sosial murid perempuan di SMA cukup kompleks dan sangat menyeramkan. Tetapi, setelah mendengar kelanjutan ceritanya, aku sadar bahwa ini bukan hanya tentang keirian antar murid perempuan biasa.

Suatu ketika Anita berduaan dengan pacarnya di salah satu taman kota yang tidak jauh dari sekolah. Saat itu hari sudah mulai malam, tetapi Anita memutuskan untuk curhat kepada pacarnya tentang masalah itu. Pada awalnya, pacarnya berusaha untuk menenangkan Anita, ia mengatakan bahwa dirinya akan selalu ada di sisi Anita, dan Anita pun termakan kata-kata itu.

Entah apa yang ada di pikiran pacarnya itu, tiba-tiba ia memegang wajah Anita dan berusaha menciumnya. Dengan reflek, Anita mendorong pacarnya itu hingga terjatuh karena sangat terkejut.

Dan dari sinilah, seluruh bencana dimulai.

Esok harinya, suasana semakin buruk. Mulai banyak orang berani mengatakan hal-hal yang tidak pantas terhadap Anita. Bahkan, kali ini dari kalangan senior tidak hanya satu atau dua orang, tetapi jadi makin banyak yang ikut membenci Anita. Ia bingung, kenapa menjadi semakin banyak dan seakan-akan fitnah yang dibuat semakin parah.

Rupanya, pacar Anita lah penyebabnya.

Sore itu, ia meminta Anita untuk menemuinya di taman kota yang sama. Entah apa yang ada di pikirannya, menurutnya ia tidak memiliki pilihan lain.

Dan yang lebih parah lagi, ia mengatakan bahwa ia akan menghentikan rumor tersebut, apabila Anita mau melakukan ‘sesuatu’ untuknya.

Tubuh Anita gemetar. Ia tidak percaya bahwa pacarnya sendiri yang mengatakan hal ini. pacar yang pada awalnya ia kira akan ada di sisinya, rupanya mengkhianatinya begitu saja hanya karena tidak bisa menahan nafsunya.

Sampah, gumamku.

Semenjak hari itu, Anita menjadi bulan-bulanan dan bahan pergunjingan di sekolahnya hingga hari ini. Semenjak itu pula Anita memutuskan untuk pulang larut malam, mencari tempat dimana ia dapat sendirian menghabiskan waktu.

Setelah menceritakan semua itu, Anita tertunduk.

“Aku... gagal menepati janji yang aku buat dengan orang itu.”

Ah, sekarang aku paham. Mengapa saat kemarin aku mengatakan tentang ‘kisah cinta yang normal’ ia cukup terlihat kebingungan. Tentu saja, pengalaman yang dialami oleh Anita tidak bisa aku bilang sebagai sesuatu yang ‘normal’.

Sebenarnya aku cukup penasaran, siapakah orang yang Anita maksud. Apakah ia orang yang sepenting itu sampai-sampai ia tidak ingin mengecewakannya?

“Anita.”

Anita yang sedari tadi menunduk akhirnya menatap ke arah ku.

“Aku tidak tahu siapa orang yang kamu buat janji dengannya. Tapi, aku yakin akan satu hal.”

Aku menatap balik Anita dan tersenyum.

“Kalau kamu memang benar sudah berusaha melakukannya, tetapi tidak dapat hasil yang kau inginkan. Mengetahui bahwa kamu berusaha menepati janjinya saja, aku yakin orang itu sudah sangat senang.”

Anita hanya menatapku tanpa kata-kata.

Tak lama, ia tertawa kecil.

Entah apa yang ia tertawakan, aku pun ikut tertawa untuk meringankan suasana.

“Sudah kuduga, kapanpun dan dimana pun, Om akan tetap jadi Om.”

Dan ya, dia lagi-lagi mengatakan hal tersebut yang entah dari mana datangnya.

Tapi tidak apa. Aku sudah cukup terbiasa dengan sisi misterius dari gadis ini. Karena, aku merasa malam hari ketika menunggu kereta terakhir menjadi terasa lebih hidup ketika aku duduk di sebelah gadis ini—gadis SMA yang menyimpan banyak misteri yang tidak dapat aku pahami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anggaplah Anime Yang Kalian Sebut Sampah Seperti Fast Food

Belakangan ini (atau mungkin sudah semenjak 2015-2016) mulai bermunculan serial anime yang banyak penghuni internet atau para otaku sebut se...