Sabtu, 03 Januari 2026

Anggaplah Anime Yang Kalian Sebut Sampah Seperti Fast Food

Belakangan ini (atau mungkin sudah semenjak 2015-2016) mulai bermunculan serial anime yang banyak penghuni internet atau para otaku sebut sebagai "anime sampah". Biasanya, anime-anime ini dicirikan dengan alur cerita yang sangat template sehingga orang-orang sudah tahu arahnya kemana. Bukan hanya alur cerita, tapi juga mulai dari urutan kejadian, komposisi tokoh di dalamnya, hingga karakteristik dari para tokoh dan latar cerita.


Isekai

Mari kita ambil salah satu contoh yang sudah ada cukup lama dan beberapa anime dengan tema ini masih suka diproduksi hingga sekarang, yaitu anime bertema"bereinkarnasi ke isekai". Tenang dulu, saya bukan bilang bahwa di dalam genre ini semua anime nya sampah. Ada yang bagus kok, bahkan banyak. Mulai dari Tensura, Slime 300, hingga Overlord. Semua itu adalah anime dengan tema berpindah/ter-reinkarnai ke isekai, dan setiap serial tersebut sudah memiliki nama nya masing-masing di industri. 

Tensura terkenal karena bagaimana karakter utama berusaha membangun isekai yang ia masuki dan melakukan manuver politik atau semacamnya (intinya serasa bermain game strategi seperti Civilization--kalau menurut saya). Slime 300 terkenal karena walaupun isekai, tetapi dia mengedepankan aspek bersantai, kekeluargaan, dan interaksi sosial yang kuat antar karakter. Dan yang terakhir adalah Overlord, tentu saja para otaku sudah tidak perlu dijelaskan lebih lanjut tentang betapa terkenal dan pecahnya anime ini. Terlepas dari fan service yang ada di dalam ceritanya, kisah tentang rekan petualang, masa lalu karakter utama, hingga permainan politik antar negara yang diceritakan membuat banyak orang jatuh cinta dengan serial ini.


Nah sekarang, mari kita bergeser sedikit dan melihat anime dengan tema isekai seperti apa yang banyak dianggap sampah. Dari sini, sebenarnya terdapat dua subtema berbeda yang bisa ditelisik lebih lanjut. Subtema pertama adalah "pergi ke isekai sendiri", dan yang kedua "pergi ke isekai bersama teman sekelas, tapi aku dikucilkan oleh teman sekelas ketika di isekai lalu ternyata bahwa aku lebih hebat dari mereka".

Kita masuk ke subtema yang pertama. Kalau menurut saya pribadi, sebenarnya subtema "aku sendiri pergi isekai" lebih mudah diterima dan sepaling tidaknya lebih baik daripada subtema kedua. Kenapa? Karena, walaupun di dalam ceritanya akan cukup memperbanyak fan service seperti si karakter utama membentuk tim yang isinya perempuan semua dan jadi harem, atau di setiap tempat yang ia kunjungi ia akan mendapatkan harem baru, sepaling tidaknya kita tahu bahwa "oh, itu untuk memenuhi kepuasan si karakter utama sendiri" atau mudahnya si penulis punya imajinasi bahwa dia sendiri akan dikerumunin banyak perempuan cantik bila masuk ke isekai. Tentu, sekali lagi saya paham kenapa banyak otaku akan tetap dengan pendirian bahwa subtema ini sama sampahnya. Tapi itu akan saya bahas kembali di akhir tulisan.

Sekarang masuk ke subtema kedua. Nah, kalau ini sebenarnya saya bisa lebih mengerti kenapa ada atau bahkan banyak yang benci dengan subtema ini. Alur cerita dari subtema ini mudahnya seperti ini: Karakter utama adalah seorang siswa yang tidak pandai bergaul di kelasnya. Tiba-tiba satu kelas dipindahkan ke dalam isekai. Di sana mereka dianggap pahlawan Tapi ternyata hanya si karakter utama yang memiliki kemampuan jelek. Karena dianggap beban, dia dibuang (kadang difitnah juga). Lalu saat dibuang, dia dapet kekuatan OP dan dapet perempuan cantik. Dan ujungnya dia ketemu lagi sama teman-teman sekelasnya dan memberikan pembuktian bahwa dia tuh lebih jago dan punya perempuan lebih cantik. Mudahnya seperti itu.

Kalau hemat saya pribadi, cerita seperti ini tidak hanya sekedar imajinasi penulis untuk mendapatkan kekuatan besar atau perempuan cantik di isekai. Tapi juga adanya perasaan tidak senang dengan lingkungan sekitar nya (di dalam cerita digambarkan sebagai kelas tempat karakter utama) dan ingin memberikan pembuktian bahwa pada kenyataannya ia memiliki kualitas diri yang lebih dibandingkan orang-orang sekitarnya. Nah, saking seringnya cerita ini direproduksi terus menerus, para penonton akan mulai bosan dan mulai memanggil cerita ini sebagai 'sampah'.

Jadi, apakah hanya tema isekai saja yang sering sekali mendapat julukan 'sampah' dan mass-produced? Tidak, ada satu tema lagi yang rupanya belakangan mulai cukup mencuat dan populer. Yaitu, "aku dikeluarkan dari tim pahlawan". 

Banished from hero's party

Sama dengan tema sebelumnya, saya tidak mengatakan bahwa semua serial dengan tema ini sampah. Apakah ada serial-serial dengan tema ini yang betul-betul bagus? Tentu saja ada, dan saya baru menemukan serial ini baru-baru ini (bulan Desember). Sebenarnya saya ingin memberitahukan judul dari serial tersebut, tapi karena judulnya terlalu panjang, maka sebut saja nama serial ini dengan "Level 9999". Dengan judul sepanjang itu, apa yang membuat saya berani mengakatan bahwa serial ini tidak 'sampah' walaupun berkutat di tema 'dikeluarkan dari tim pahlawan'?

Shinjiteita Nakama-tachi ni Dungeon Okuchi de Korosarekaketa ga Gift "Mugen Gacha" de Level 9999 no Nakama-tachi wo Te ni Irete Moto Party Member to Sekai ni Fukushuu & "Zamaa!" Shimasu! (Iya, judulnya sepanjang itu).

Sebelum masuk ke situ, kita harus lihat dulu apa saja hal yang membuat sebuah anime dengan tema ini dianggap sampah. Saya mendapati dua hal utama: pembalasan dendam yang terlalu cepat dan alur cerita yang tiba-tiba ditambah-tambahkan (jadinya tidak hanya tentang pembalasan dendam, tapi hal-hal lain juga). Lalu, apakah serial yang saya sebutkan tadi memenuhi poin-point tersebut?

Yang pertama, pembalasan dendam yang terlalu cepat. Pada Level 9999, pembalasan dendam benar-benar dilakukan secara bertahap. Bahkan, untuk dendam milik karakter utama terhadap karakter yang memang juga dimusuhi oleh penonton benar-benar terbalaskan, penonton harus menonton hingga episode terakhir. Kenapa? Karena dari awal hingga akhir serial, kita benar-benar disuguhkan bagaimana karakter utama merancang rencana balas dendamnya. Mulai dari membangun fondasi, mempersiapkan umpan, hingga mempersiapkan grand finale untuk pembalasan dendamnya. Sekarang bila kita bandingkan serial ini dengan serial lain yang cukup sering disebut sampah atau terlalu mass-produced, terdapat perbedaan signifikan terutama dalam membangun fondasi rencana balas dendam. 

Level 9999 betul-betul membangun fondasi rencana balas dendam tidak hanya dari sudut pandang kekuatan atau ego milik si karakter utama, tetapi juga bagaimana ia mempersiapkan lingkungan yang tepat untuk menjatuhkan tokoh yang menjadi musuh bersama (antara tokoh utama dan para penonton). Sementara itu, di serial-serial lain, lebih seringnya mereka terlalu fokus dengan bagaimana ego karakter utama selalu dipenuhi. Dapat kekuatan baru, dapat guru baru, dapat pencerahan baru, dan semuanya berujung pada kekuatan yang sangat kuat hingga dapat menghancurkan musuhnya. Bahkan, proses ini terkadang terlalu cepat sehingga masih tersisa beberapa episode yang menyebabkan terjadinya penambahan alur cerita atau alur cerita yang keluar dari fokus 'balas dendam'.

Di sinilah kita masuk ke poin kedua. Ketika alur cerita sudah keluar dari fokus pembalasan, entah itu mulai masuk ke politik antar kerajaan, romansa antar karakter, atau misteri-misteri yang ada di dalam dunia itu. Jujur saja, pasti mayoritas penonton yang menonton serial seperti ini mencari momen ketika dendam dibalaskan. Maka dari itu, bila dendam sudah terbalaskan dan harem sudah didapatkan, apalagi yang tersisa untuk penonton? Di sinilah munculnya alur cerita yang tidak seharusnya. Entah itu mulai dari munculnya musuh yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan para tokoh di awal, atau cerita mulai berfokus pada tokoh lain di dalam serial.

Lalu, apakah kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang salah untuk dilakukan?

Anggap saja seperti fast food

Sebenarnya, arah produksi anime seperti di atas itu tidaklah salah. Mau itu untuk tema isekai atau tema dibuang tim pahlawan. Apabila sebuah serial masuk ke isekai dibuat dengan alur cerita yang mirip atau bahkan bentuk karakter yang mirip, ya tidak apa. Itu artinya arah produksinya adalah bagaimana membuat anime tersebut: mudah memuaskan penonton dengan alur yang ringkas, dan memenuhi hasrat penonton dengan mudahnya karakter utama mendapatkan harem. Jadi, serial-serial yang seperti ini memang secara desain dibuat untuk kemudahan penontonnya. Penonton bisa langsung menikmati esensi pelarian (kabur/masuk ke isekai) dan ditemani oleh harem yang cantik tanpa perlu terbebani untuk memahami alur ceritanya. Isekai satu kelas pun juga begitu. 

Mungkin ada diantara penonton yang merasa dikecewakan atau sedang sedih di hari itu karena ia merasa tidak dapat diterima di lingkungannya dan butuh kepuasan cepat. Tentu saja, ia memiliki opsi untuk menonton serial seperti ini: satu kelas dipindahin ke isekai, karakter utama difitnah dan dibuang, lalu tiba-tiba dapat karakter perempuan cantik yang menemani perjalanannya, dan saat karakter utama kembali bertemu teman sekelasnya, yang akan terjadi adalah antara ia membuktikan bahwa ia lebih kuat daripada mereka dan membuat mereka akhirnya memberikan dirinya pengakuan, atau ia membalaskan dendam dengan menghancurkan teman-teman sekelasnya. Begitu pula dengan cerita dibuang dari tim pahlawan. Penonton dibuat merasa kesal terhadap para tim pahlawan dengan cepat, lalu memberikan kepuasan dari pembalasan atau pembuktian nya dengan cepat pula.

Keduanya memiliki formulasi yang sama: membuat penonton mendapatkan kepuasan instan tanpa perlu terbebani dengan alur cerita.

Lalu, apakah dengan menggunakan formulasi tersebut kita dapat dengan mudahnya mengatakan mereka sampah? Ya tentu saja sebenarnya mengatakan bahwa produk-produk tersebut adalah sampah itu dikembalikan kembali kepada kebebasan berpendapat para penonton (konsumen). Tapi, mungkin para penonton anime ini lupa bahwa formulasi seperti itu tidak hanya ada di dalam anime. Mudah dicerna, memberikan kepuasan instan, dan ada dimana-mana? Hal-hal tersebut seperti tidak asing. Memang tidak, karena formulasi seperti itu diterapkan di banyak industri dan yang paling dekat dan terlihat adalah industri makanan cepat saji atau fast food. Mereka punya cabang dimana saja, harganya terjangkau, dan makanannya mudah dicerna. Memang tidak sehat, tapi mereka ada bila dibutuhkan atau sedang ingin makan cepat. 

Ya boleh saja kalau ingin menyebut produk-produk tersebut sebagai sampah. Tapi harus diingat, mereka hadir karena pasar yang meminta mereka ada. Layaknya fast food, fast fashion, hingga short videos content. Pasar di waktu sekarang memang menginginkan sesuatu yang serba cepat, instan, dan mudah dalam memuaskan konsumen. Artinya, selama banyak yang masih menonton 'anime sampah' ini, ya artinya permintaan atas anime-anime tersebut akan selalu ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anggaplah Anime Yang Kalian Sebut Sampah Seperti Fast Food

Belakangan ini (atau mungkin sudah semenjak 2015-2016) mulai bermunculan serial anime yang banyak penghuni internet atau para otaku sebut se...