Banyak sekali orang yang tidak siap dan tidak berani untuk dihadapkan dengan masa lalunya. Tidak, bertemu masa lalu bukan berarti pergi ke masa lalu seperti yang ada di karya fiksi, melainkan ketika kita melihat gambaran diri kita di masa lalu muncul pada diri seseorang. Ketika orang tersebut, entah mengapa terlihat seperti diri kita dulu—mau itu buruk atau baik.
Mungkin, itulah yang aku rasakan setiap kali aku bertemu gadis itu.
Apakah dia tidak punya teman? Kenapa dia harus pulang semalam itu? Dan kenapa ia terkadang harus memaksakan senyumnya?
Ya, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah bisa terbayang kan bagaimana masa SMA ku dulu. Bukan sesuatu yang bisa kubanggakan, tapi juga sesuatu yang akan cukup sulit untuk dilupakan.
Ah, aku ketinggalan satu pertanyaan penting. Bagaimana dia tahu aku?
Maksudku, kenapa ketika pertama kali bertemu, ia asal tersenyum kepadaku begitu saja dan keesokannya sudah berani mengobrol denganku?
Aku yakin, orang normal pasti akan berpikir ‘kalau anak SMA diliatin sama Om-Om kantoran pasti ngerasa jijik dong’.
Iya, memang seharusnya begitu. Itulah mengapa aku sangat bingung—kenapa ia harus tersenyum kepadaku. Dan sialnya, aku tidak dapat melupakan senyuman pertamanya itu.
Berkali-kali aku mengobrol dengannya, ingin sekali aku menanyakan pertanyaan itu. Tapi entah mengapa, jauh di dalam diriku, aku merasa takut dan tidak siap untuk mendengar jawabannya.
Intinya, aku hanya berdoa apapun yang terjadi dengan dia—entah itu kehidupan sekolah atau pribadinya—semoga semuanya bernasib lebih baik daripada masa laluku. Dan aku harap, ia benar-benar dapat menikmati masa mudanya seperti yang lain.
Ah, lagi-lagi isi kepala cuman ngoceh yang enggak jelas...
“Hati-hati, jalur satu commuter line tujuan Jakarta Kota...”
Lamunanku terhenti oleh suara pengumuman stasiun yang bilang bahwa kereta ku akan segera tiba. Aku bersama penumpang lainnya mempersiapkan diri dengan berdiri mendekati rel.
Langit biru gelap dengan sedikit esensi merah, menandakan sinar matahari yang masih malu-malu untuk keluar. Semilir angin pagi—yang sebenarnya sudah cukup hangat—menerjang tubuhku dan penumpang lainnya. Wajah para penumpang yang seakan masih mengantuk tapi tetap harus bangun dan berangkat bekerja atau bersekolah.
Situasi hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari kemarin. Pekerja kantoran (sepertiku) yang bersiap-siap untuk pergi, anak sekolahan dari SD hingga SMA yang ikut berbaris menunggu, hingga para ibu rumah tangga yang kelihatannya ingin pergi ke daerah Tanah Abang untuk berbelanja—mereka sudah siap membawa keranjang dan tas jinjing untuk membawa belanjaan mereka.
Beginilah pemandangan yang sangat biasa di perkotaan ini, walaupun hari masih gelap, tetapi kami sudah harus bergerak ke pusat kota.
Kereta pun tiba di jalur satu. Aku dan penumpang lain mulai berjalan dan ikut masuk ke dalam kereta. Walaupun sudah sangat penuh, tapi kami tetap memaksakan masuk karena kami tahu kereta selanjutnya tidak acap berbeda dengan kereta yang sekarang. Tidak terdengar banyak keluhan maupun ocehan tentang sebetapa ramai dan sesaknya kereta. Bisa dibilang, kami para penglaju pagi sudah berdamai dengan kondisi seperti ini. Bayangkan saja, ditengah sesaknya isi kereta, masih terlihat bahwa beberapa orang dapat tertidur atau sekedar memejamkan mata walau dalam posisi berdiri.
Ya, aku yakin di antara mereka ada yang sama sepertiku—pulang larut malam tapi masih harus kembali bekerja di pagi buta.
Suara dentuman antara roda kereta dengan rel besi terdengar sepanjang perjalanan, seakan sudah menjadi musik untuk menemani perjalanan pagi para penglaju kereta. Beberapa orang yang sudah membuka matanya—setelah memejamkannya sebentar—membuka ponsel mereka, entah itu mengecek pesan masuk, atau hanya sekedar membuka sosial media. Anak sekolahan yang mendapatkan tempat duduk membuka buku catatan mereka, mempersiapkan diri untuk belajar nanti.
Apakah gadis itu melakukan rutinitas yang sama?
Tapi, kalau mengingat nilai ujian yang ia tunjukkan kepadaku waktu itu, sangat mungkin ia termasuk golongan pelajar yang cukup ambisius sampai harus belajar bahkan ketika dalam perjalanan—
Lagi-lagi soal gadis itu...
Kereta tiba di Manggarai. Aku beserta penumpang yang sepertinya juga berkantor di daerah sekitar Sudirman segera keluar dari kereta dan berjalan menuju peron bawah untuk menuju kereta sambungan.
Langit Jakarta mulai terlihat terang. Sinar matahari mulai terlihat jelas dan hawa panas kota sudah mulai terasa. Aku bisa merasakan beberapa bagian tubuhku mulai berkeringat karena terus bergerak. Suasana peron pun mulai ramai dengan suara penumpang. Ada yang mengobrol sambil menunggu kereta, ada yang sedang menelepon dengan ponselnya, atau bahkan hanya bergumam mengikuti irama dari lagu yang sedang didengar.
Sebelum berjalan ke arah tangga untuk turun ke peron bawah, sesaat aku melihat ke arah peron di sebrang. Peron dimana setiap kali aku pulang larut, aku menyempatkan diri untuk duduk berdua bersama gadis SMA itu. Jujur saja, suasana peron yang ramai seperti saat ini entah mengapa membuat tempat itu terasa asing.
Seakan-akan, kejadian tiap larut malam itu hanyalah mimpi.
Dan di sinilah aku, berjalan menuruni tangga sambil melihat ke arah peron itu—mengharapkan sesuatu yang aku sendiri yakin tidak akan terjadi.
Berharap ada dia di sana.
Di peron bawah, kereta sambungan sudah tersedia seakan tahu bahwa kami para pekerja akan menyambung kereta ke arah Sudirman. Aku dan penumpang lainnya segera masuk walaupun suasana di dalam kereta sama ramainya dengan kereta dari arah Bogor. Tidak lama, tibalah aku di kantor dan mulai bekerja seperti biasa.
Rutinitas harian? Tidak ada bedanya, bahkan rutinitas kerjaku bukanlah suatu hal yang menarik untuk diceritakan.
Polanya selalu sama. Bekerja, melapor, dimarahi, bekerja, melapor, dimarahi, dan begitu terus hingga sore tiba.
Eh tapi tunggu dulu, ada satu waktu yang sebenarnya cukup aku nikmati di tengah rutinitas kantor ini—yaitu jam makan siang.
Kenapa aku suka dengan jam makan siang? Sebenarnya jawabannya sudah cukup jelas dan semua orang tahu tentang ini. Tapi biar kutekankan—bisa keluar sejenak dari gedung kantor, berdiri dan berjalan sedikit setelah sekian jam duduk di depan layar, adalah kenikmatan yang bisa didapatkan ketika makan siang.
Lokasi kantorku tidak jauh dari sebuah pusat perbelanjaan—sebuah mall—yang cukup ternama di Jakarta, dan siang ini aku memutuskan untuk makan siang disana. Wah, apakah aku adalah orang kaya dengan penghasilan di atas UMR yang akan makan siang di restoran mahal yang terdapat di mall itu? Tentu saja tidak.
Cukuplah rapat dengan klien atau urusan bisnis lainnya yang menggunakan restoran di dalam mall, sisanya kalau bisa aku ingin jauh-jauh dari tempat penyedot isi dompet itu.
Karena itu sudah jelas bahwa yang aku tuju bukanlah restoran yang ada di dalam mall, melainkan kantin karyawan yang biasanya berada di bagian yang agak tersembunyi.
Loh, berarti di gedungku kantorku tidak ada kantin karyawan? Bukannya tidak ada. Namun, bayangkan saja, ketika aku ingin menikmati makan siang sendirian, tidak perlu melihat hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaanku (baca: orang-orang kantor), kenapa aku harus melihat mereka juga saat sedang makan? Bukankah sudah cukup aku melihat mereka ketika di jam kerja saja.
Intinya, aku hanya ingin menikmati jam makan siangku dengan tenang.
Ketika bakso pesananku sudah datang, aku sudah sangat bersemangat untuk menikmatinya. Kugunakan sendok untuk mengambil sedikit kuah dan satu buah bakso, lalu kumasukkan ke dalam mulutku. Saat lidah ku menyentuh kuah baksonya, aku bisa merasakan rasa asin dan gurih yang (sepertinya) sangat pas, membuat aku ingin menyeruputnya pelan-pelan. Lalu bagaimana dengan baksonya? Jujur saja, cukup biasa. Aku tidak peduli apakah pakai boraks atau semacamnya—seperti yang biasanya ada di televisi itu—yang penting rasa dari kuah baksonya sudah cukup menutupi kepolosan dari baksonya itu sendiri.
Belum sempat aku menyuap satu sendok bakso lagi—
“Eh Mbak! tau gak sih Pak Hardi kemarin ketahuan main sama anak SMA?”
Pffttt!
“Seriusan? Pak Hardi yang bos di PT X itu?”
Astaganaga, kenapa aku harus mendengar obrolan itu sekarang??
Bayangkan saja, ditengah aku menikmati damainya makan siang dengan semangkok bakso, aku harus mendengar DENGAN JELAS sebuah pergibahan yang aku rasa isinya lebih penting dan berbahaya dibandingkan rahasia negara.
Karena tidak ingin mendengar lebih banyak lagi dan berhubung jam makan siang sudah akan habis, aku segera menghabiskan bakso dengan cepat, membayarnya, lalu kembali ke kantor.
Setibanya di kantor, aku dikabari bahwa atasanku masih belum pulang dari perjalanan bisnis—aku yakin seratus persen bahwa ia sedang berlibur bersama keluarganya—dan aku harus menunggu hingga sore atau bahkan malam hari apabila ingin bertemu dengannya. Kebetulan sekali ya, pekerjaanku setelah ini mengharuskanku untuk berurusan dengan beliau yang sedang melakukan perjalanan bisnis itu.
Sialan!!
Hingga pukul delapan malam, aku dan beberapa rekanku yang sepertinya juga memiliki urusan dengan beliau masih berada di kantor. Katanya, beliau tidak akan datang, melainkan sekretaris pribadinya. Aku sudah memiliki firasat tidak enak. Maksudku, apa yang akan atau dapat dilakukan oleh sekretaris pribadinya itu? Dan benar saja, sekretaris pribadinya itu datang hanya untuk mengatakan bahwa semua dokumen yang ingin diserahkan cukup disimpan di atas meja beliau.
Setelah itu, karena hari sudah cukup malam dan Commuter Line masih cukup ramai (terutama dari Sudirman ke Manggarai), aku memutuskan untuk makan malam di luar.
Salah satu pemandangan unik yang dapat ditemukan di Jakarta adalah tempat yang padat akan gerobak jajanan dan pedagang kaki lima dapat berdampingan langsung dengan gedung-gedung tinggi perkantoran. Orang-orang yang berjalan dan duduk di pinggiran jalan ini biasanya adalah para pekerja kantor yang masih belum pulang, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan.
Sudah menjadi pemandangan biasa pekerja kantoran yang masih mengenakan kemeja rapihnya mendatangi dagangan-dagangan gerobak dan makan di tempat. Salah satunya adalah diriku, yang mendatangi pedagang bakmie langgananku setiap kali harus pulang larut.
Mungkin muncul sebuah pertanyaan, kalau misalnya terpaksa pulang malam hanya karena ada kerjaan yang tertunda dan mampir sebentar ke warung makan, lalu kenapa bisa harus pulang naik kereta terakhir?
Pertanyaan bagus. Pada dasarnya, ada sedikit perasaan yang selalu muncul ketika melihat stasiun yang penuh, jalanan yang macet, dan hawa panas malam kota Jakarta—yaitu perasaan malas. Orang mungkin akan berkata ‘kalau begitu cepatlah pulang dan beristirahat’.
Jadi begini, (pembelaanku adalah) perjalanan pulang pun merupakan salah satu bentuk ‘kerja’ tersendiri yang—tentu saja—memakan banyak tenaga. Bukannya aku mengeluh atau terlalu banyak mau, tapi coba bayangkan seperti ini. Bagaimana kalau misalnya, kita sudah mulai beristirahat dari saat perjalanan pulang? Tidak perlu lelah mengantri di stasiun, di dalam kereta pasti dapat tempat duduk, dan bisa sedikit memejamkan mata atau sekedar menarik nafas dalam. Pengalaman seperti itu sayang sekali hanya dapat dirasakan kalau kita pulang menggunakan kereta terakhir. Tereserah kalian ingin berkomentar seperti apa, tapi beginilah caraku ketika sudah terlalu lelah saat akan pulang ke rumah—di gas kan saja pulang larut malam.
Oh, dan satu hal. Tentu saja aku melakukan ini bukan karena ingin bertemu gadis itu.
Tapi tenang saja, normalnya apabila pekerjaanku sudah selesai di sore hari, aku langsung pulang dan tidak berlama-lama di kantor.
Tidak terasa suasana di Jakarta sudah mulai sepi. Antrian masuk stasiun Sudirman yang tadinya terlihat begitu panjang sekarang sudah tidak ada lagi. Dan ketika aku mengecek jam ku, waktu sudah menunjukkan cukup larut malam. Karena itu, aku memutuskan untuk pulang.
“Astaga lelah sekali...”
Aku memutuskan untuk duduk sebentar. Kebetulan sekali kereta yang aku naiki cukup kosong. Mungkin posisi dudukku sangat terlihat kurang pantas bagi orang lain—tapi peduli apa aku, toh kan aku cuman sendiri di gerbong ini.
Namun, semua ini entah mengapa terasa lucu sekali. Aku tahu saat ini aku sangat kelelahan, harus segera pulang dan beristirahat. Walau begitu, dalam hatiku muncul perasaan senang, perasaan seperti tidak sabar untuk bertemu dengan sesuatu.
Bertemu gadis itu..
Ya Tuhan, masih saja aku sempat untuk berpikiran seperti itu. Maksudku, bukan berarti aku tidak senang ketika mengobrol berdua dengannya. Jujur saja, ketika aku berbicara dengan dia, melakukannya cukup menyegarkan. Karena, selama di tempat kerja aku hanya mengobrol dengan orang dewasa yang dimana isinya kalau tidak gibah ya bahas kerjaan. Pokoknya—
Ah sudah lah, semakin aku pikirkan malah akan semakin jelas kalau aku sangat memperhatikan gadis itu.
Setelah tiba di Manggarai, aku pun berjalan ke peron atas.
Setibanya di peron atas, aku tidak melihat gadis itu dimana pun. Ya, bukan berarti aku ingin bertemu dengannya. Karena itu aku memutuskan untuk langsung duduk di bangku terdekat.
Aneh sekali, hawa malam ini lebih dingin dari biasanya. Aku sudah sering pulang larut malam dan tahu walaupun suhunya lebih rendah, tetapi di Jakarta hawa hangat akan tetap terasa.
“Hacih!”
Astaga, aku sampai bersin. Sepertinya bukan Jakarta yang sedang dingin, tapi tubuhku yang agak kurang sehat karena terlalu sering pulang malam.
Wah... Apa mungkin tubuhku sudah mendekati batasnya ya...
Disaat aku sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba—
“Om Randi butuh Tisu?”
Aku mendengar suara seorang gadis di sebelahku. Lalu, sebuah tangan yang putih, yang tidak terlalu berisi tapi juga tidak kurus, menyodorkan tisu yang sedang digenggamnya kepadaku.
Suara itu...
Tanpa sadar, aku segera melihat ke arah sumber suara itu. Dan ketika aku bisa melihat orang yang memberikan tisu itu kepadaku, aku hanya dapat tersenyum dan membalas sapaannya.
***
Siang itu, bel berdering menandakan waktu sudah masuk jam istirahat makan siang. Seluruh murid yang ada di ruang kelas bergegas keluar untuk makan di kantin. Namun, tidak semuanya pergi karena masih ada beberapa anak yang memutuskan untuk tetap duduk di kelas.
Salah satunya adalah Anita. Tentu, bukan hanya dia yang duduk diam di kelas, tetapi murid lainnya diam di kelas karena ingin mengobrol dengan teman sebangku atau sekedar memakan bekalnya bersama teman sekelas. Sayangnya, Anita hanya duduk sendiri di bangkunya tanpa ada yang menghampiri.
Menghela nafas...
Tidak lama, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kelas. Namun, ia tidak berjalan ke arah kantin tempat murid lain makan siang, melainkan menuju ke toilet murid yang berada paling jauh dari kelasnya.
Setelah masuk ke toilet, ia memasuki salah satu bilik, duduk di atas kloset, lalu mengeluarkan ponsel serta earbuds miliknya, dan mulai mendengarkan musik.
Terkadang ia berpikir, apakah dia akan seperti ini terus hingga akhir masa SMA nya? Tidak punya teman, menghabiskan waktu istirahat makan siang di toilet sendirian, dan selalu menjadi target perundungan?
Dulu, ketika ia menyadari semua ini saat baru pertama kali masuk SMA, ia akhirnya memutuskan untuk menutup diri dari teman dan lingkungan sekitarnya. Orang tuanya pun tidak jauh berbeda, mereka hanya mengharapkan hasil dan prestasi di akhir saja.
Sakit, sakit sekali...
Setiap hari, selalu diisi oleh tekanan dan juga perasaan ingin menyerah. Bahkan, ia selalu berpikir untuk lari dari semua ini saja. Mungkin orang lain akan berkata ‘apaan sih? Kayaknya lebay banget”. Boleh saja mereka berkata seperti itu. Orang lain bisa saja tidak menghiraukan perasaannya atau bahkan meremehkan apa yang sedang ia rasakan sampai mereka juga merasakan yang sama.
Mungkin jika ingin diibaratkan, akan seperti pasir hisap. Semakin sering bergerak akan semakin tenggelam. Terus tenggelam hingga tidak bisa keluar sama sekali. Dan saat ini, Anita merasa dirinya sudah seluruhnya terkubur di dalam pasir itu. Akhirnya, ia menerima apapun yang takdir berikan kepadanya.
Saat dirinya sedang merenung, tiba-tiba saja—
“...!”
Musik yang sedang ia dengar... adalah musik yang ia dengar ketika pertama kali bertemu dengan pria itu. Tidak, bukan saat di stasiun Manggarai, tetapi beberapa tahun sebelum itu. Lebih tepatnya, saat ia masih SMP.
Tersesat di tengah-tengah arus lautan, dimana ia tidak tahu harus kemana, pria itu datang menjulurkan tangannya untuk Anita pegang agar tidak tersesat lagi. Walaupun pada waktu itu, penampilan pria itu agak berbeda dengan sekarang. Namun, Anita tidak akan pernah lupa dengan tatapan matanya itu, tatapan yang tidak jauh berbeda dengannya—mencari ketenangan di tengah derasnya arus dan gelapnya lautan dalam.
“Sepertinya, waktu itu Om masih kuliah ya, hehe...”
Oops, tanpa sengaja Anita mengeluarkan suaranya. Ia takut ada yang mendengarnya mengoceh ocehan aneh itu dan berpikir yang tidak-tidak.
Ya, tidak bisa disalahkan juga sih, kalau ada yang berpikir aneh-aneh saat mendengar aku—seorang gadis SMA—berbicara tentang Om-Om kantoran.
Anita tahu, ia tidak akan pernah bisa melupakan semua ingatan saat ia sedang berada di bawah tekanan. Saat semua pikiran yang seharusnya tidak terpikirkan menyerang isi kepalanya. Di saat itu, dunia seakan menjadi musuhnya. Ia memutuskan untuk melakukan hal yang ia rasa adalah bentuk dari ‘serangan balik’ terhadap dunia. Menolak teman, bertingkah judes terhadap guru, hingga pulang larut malam dan selalu dimarahi oleh orang tuanya. Namun, semua berubah ketika ia melihat pria kantoran yang sudah kelelahan di Stasiun Manggarai, berdiri menunggu kereta terakhir, tanpa sengaja bertatap mata dengannya.
Pria itu...
Saat itu, Anita tahu bahwa ia telah bertemu kembali dengan pemilik tangan yang menolongnya dulu ketika SMP. Dan ketika Anita sadar, ia langsung tersenyum sepenuh hati kepadanya. Walaupun seperti dugaan, pria itu menjadi salah tingkah dan bingung. Wajar saja, bayangkan di larut malam, ketika stasiun sudah sepi, tiba-tiba ada seorang gadis SMA memberikan senyuman kepadamu. Memikirkan hal itu, Anita hanya bisa tersenyum kecil sepanjang perjalanan pulangnya.
Aku penasaran, apakah Om masih ingat denganku?
Sebenarnya, pada awalnya Anita juga masih kurang yakin bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan yang ia temui ketika masih SMP. Namun, semua semakin jelas ketika ia tidak sengaja melihat tanda pengenal miliknya.
“Randi”.
Benar, kalau tidak salah, dulu ia juga memperkenalkan dirinya seperti itu.
Suasana hidupnya sekarang sudah berubah. Bila sebelumnya ia berpikir bahwa seluruh dunia adalah musuhnya, sekarang sudah tidak. Setidaknya ada satu orang yang akan duduk di situ, yang mengharapkan pertemuan itu sama sepertinya, yang akan mendengar dan mengobrol dengannya. Dan ketika Anita duduk bersamanya, rasanya dunia sudah tidak relevan lagi. Yang terpenting hanyalah Anita, pria itu, dan isi obrolan yang mereka bagikan sembari menunggu kereta terakhir datang.
Teng teng teng...
“Ah, sudah waktunya kembali ke kelas.”
Mendengar suara bel berdering, Anita segera kembali ke kelas dan melanjutkan sekolah. Biasanya, di setengah hari terakhir sekolahnya, hanya satu hal yang Anita pikirkan—bertemu pria itu di Stasiun Manggarai.
***
Gadis itu berhenti sejenak setelah menaiki peron atas. Ia melihat ke sekeliling seakan sedang mencari sesuatu.
“Hacih!”
Terdengar suara seseorang yang bersin. Ia melihat ke arah orang itu, dan ternyata dia itu adalah orang yang gadis itu cari. Ia mendekati pria yang baru saja bersin itu, mengambil tisu dari tas nya, dan menyodorkannya kepada pria itu.
Pria itu menatap gadis itu, lalu mengambilnya. Namun, ketika tangan pria itu menyentuh kulit tangan gadis itu, ia terdiam sesaat.
Mungkin, ini yang biasanya orang lain sebut sebagai ‘deja vu’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar