Pernahkan kalian merasa ketika melihat seseorang,
seakan orang itu tidak dapat didekati? Atau mungkin, lebih tepatnya merasa
bahwa diri ini tidak pantas untuk berada di dekatnya?
Pemandangannya yang duduk sendiri di kelas, membaca
buku, memakan bekalnya, seakan menjadi pemandangan mahal dan mewah, dimana kami
para teman sekelasnya tidak berani menghampirinya. Bukan, kami tidak bermaksud
untuk menjauhinya atau benci kepadanya, melainkan kami selalu bertanya kepada
diri sendiri, “pantaskah aku berbicara kepadanya?”
Mungkin bila kita mengacu kepada literatur populer, mereka menyebutnya sebagai primadona. Bahkan dilingkungan murid perempuan, hanya perempuan-perempuan ‘kasta atas’ yang dapat menjadi teman mengobrolnya. Bagaimana dengan murid laki-laki? Berharap dapat menjadi teman mengobrolnya tidak jauh berbeda dengan bermimpi di siang bolong.