Kamis, 23 Juli 2026

Catatan Pribadi Tentang Expectation Gap Seorang Mahasiswa Baru

Sebelum masuk ke inti tulisan ini, saya hanya ingin menyatakan bahwa saya tidak akan fokus tentang hal-hal seperti pemahaman atau pandangan moral dari studi kasus yang dipaparkan pada tulisan ini. Saya pun bukan lah seorang psikolog atau antropolog yang bersekolah 4 tahun untuk mempelajari bagaimana manusia hidup dan bertingkah seiring pertambahan usia dan perubahan lingkungan. Tetapi, menurut saya fenomena ini (yang tertulis pada judul) merupakan suatu hal yang cukup menarik untuk dibahas dan dijabarkan tentang apa-apa yang mungkin atau memang sedang terjadi pada fenomena ini. Keseluruhan tulisan ini berasal dari catatan pribadi saya (baca: coret-coret), karena itu saya mohon untuk tidak membaca teks ini sebagai teks ilmiah maupun riset. Tulisan ini murni hanya coretan saya belaka.

Pada suatu ketika, di salah satu pojok sosial media bernama Twitter (yang sekarang lebih dikenal X), terdapat sebuah cuitan yang muncul dan menggambarkan tentang ketidakpuasan atau rasa terkejut orang yang menulis cuitan tersebut tentang dunia perkuliahan. Kira-kira isinya seperti berikut ini.


Terjemahan: "Saya kira dengan saya masuk ke ITB, pendidikan tinggi atau semacamnya, saya akan terbebas dari orang-orang yang dengan gampangnya mengucapkan 'n-word' (sebuah ucapan SARA) tetapi saya malah tidak hanya mendengar n-word, melainkan hal-hal seperti candaan nazi, seperti, baiklah, mungkin laki-laki akan tetap menjadi laki-laki dan 'pick me girls' akan selalu ada."

Sekali lagi, saya tidak akan fokus terhadap beberapa hal yang dibicarakan dalam cuitan tersebut, melainkan kepada fenomena bagaimana orang yang mencuit ini menunjukkan keterkejutanya tentang kondisi di ITB atau perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan gambarannya.

Sebenarnya, fenomena ini dapat dijelaskan dengan mudah apabila sudah memahami tentang W-Curve of Adaptation terlebih dahulu. Karena, sebenarnya fenomena spesifik ini hanyalah bagian dari pattern yang akan terus berulang, walaupun mungkin yang beberda hanyalah isi dari keluhannya.

W-Curve of Adaptation

W-Curve of Adaptation adalah sebuah movel visual yang memetakan tahapan-tahapan emosional dari suatu proses adaptasi budaya. Model ini di proposisikan oleh peneliti budaya John T. Gullahorn dan Jeanne E. Gulahorn pada tahun 1963. Kurva-W digunakan sebagai alat untuk memprediksi proses adaptasi mahasiswa yang baru masuk ke dalam dunia perkuliahan. Kurva ini berbentuk huruf W dikarenakan adanya 5 titik kritis yang menjadi tahap adaptasi seseorang.

Titik Pertama: Antusiasme-Honeymoon

Titik ini adalah masa dimana para mahasiswa yang baru memasuki masa perkuliahan merasa senang dan bersemangat untuk mencoba dan mendapatkan hal baru. Mulai dari pertemanan, makanan, budaya, hingga cara hidup baru sebagai orang yang baru "lepas" dari rumah orang tuanya.

Titik Kedua: Culture Shock

Setelah masuk ke dunia perkuliahan dengan semangat dan antusiasme yang baru, maka mahasiswa baru akan masuk ke dalam titik fase selanjutnya, yaitu Culture shock. Syok ini tidak hanya berkaitan dengan budaya tempat ia berkuliah saja, tetapi bisa dimulai dari hal remeh seperti kondisi sekitar tempat kos, tempat kantin di kampus, hingga cara berbicara warga lokal maupun mahasiswa baru lainnya yang datang dari daerah berbeda.

Titik Ketiga: Adaptasi Pertama

Pada titik ini, mahasiswa baru akan mulai beradaptasi dengan hal-hal baru yang ditemuinya. "Beradaptasi" di sini dapat berupa membuang sebagian dirinya atau menambahkan hal baru di dalam dirinya agar dapat beradaptasi mengikuti "iklim manusia" di sekitarnya. Tetapi, adaptasi ini hanya sementara.

Titik Keempat: Friksi-Dualisme

Di saat seorang mahasiswa mencapai titik ini, hal unik terjadi. Ia akan merasakan bahwa dirinya itu sudah tidak lagi terhubung dengan rumah orang tuanya (akibat sudah mulai beradaptasi dengan rutinitas dan gaya hidup baru) tetapi di saat yang sama disadarkan pula bahwa ia juga bukan bagian dari gaya hidup baru yang ia adaptasi saat di kampus (karena ketika tiba di rumah orang tua ia kembali diingatkan dengan bagaimana ia hidup sebelum masuk perkuliahan).

Di sinilah mahasiswa baru akan merasakan culture shock kedua, yaitu ketika ia mulai kembali mempertanyakan siapa diri mereka yang sebenarnya: apakah mereka yang beraktivitas di kuliah atau yang berbincang dan berkomunikasi dengan keluarga di rumah orang tuanya.

Titik Kelima: Nrimo dan Integrasi

Ketika mahasiswa baru sudah berhasil mencapai titik ini, artinya mahasiswa tersebut sudah mulai mendewasakan diri dengan memahami bahwa dirinya sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan rumah orang tuanya dan sudah dapat menjadikan gaya hidupnya selama berkuliah sebagai diri nya yang baru.

Aplikasi Pada Studi Kasus Ini

Di dalam W-Curve of Adaptation, proses ini termasuk titik kedua dalam proses adaptasi: adanya culture shock dan expectation gap antara apa yang dipahami atau diyakini semasa wajib 12 tahun pendidikan dengan pendidikan tinggi seperti perkuliahan.

Sebenarnya, proses ini dapat terjadi dikarenakan bagaimana sosial media itu sendiri menjadi pihak yang menggantikan peran orang tua, lingkungan, dan teman sebaya dalam membentuk diri serta pandangan kita. Mudahnya, apabila biasanya pandangan serta pribadi kita terbentuk atas proses yang cukup panjang: adanya diskusi, perselisihan, setuju dan tidak setuju terhadap orang tua, tetangga, dan teman sebaya di kelas, sekarang proses tersebut sudah tergantikan dengan adanya afirmasi instan yang diberikan oleh pengguna internet lainnya.

Bisa dikatakan, sudah menjadi rahasia umum bahwa sosial media akan lebih condong menampilkan konten yang menyentuh kesukaan atau sesuai dengan cara pandang kita. Dan sebenarnya, Twitter serta TikTok sudah sangat gamblang memberitahu penggunanya akan hal ini dengan menamakan laman utamanya sebagai "For You Page". Karena itu, ketika seorang anak yang sedang dalam proses pembentukan jati diri dan cara pandang dihadapkan dengan kondisi dimana keinginan serta pendapat dia akan selalu dianggap yang paling benar dan diafirmasi dengan mudah, maka ia akan kehilangan proses dimana ada teman sebaya yang tidak setuju, ataupun orang tua yang akan membandingkan pandangan mereka dengan sang sanak.

Sehingga, hal ini akan menghasilkan narasi bahwa apapun pendapat dan cara pandang dia, itu adalah benar dan semua orang juga mengakui bahwa hal tersebut benar. Kenapa ia dapat berpikir "semua orang"? Karena, selama ini yang ia ketahui adalah bahwa orang-orang yang ia temui di internet hampir selalu memiliki cara pandang yang sama dengannya dan beranggapan bahwa mayoritas orang di dunia juga berpikir demikian. Hal ini diperparah dengan cara orang di internet menanggapi pemahaman yang berbeda: "apabila kamu percaya/tidak percaya dengan X, maka jauhi saya dan jangan berinteraksi". Ketika hal ini terus terjadi pada masa perkembangan, maka syok yang diterima ketika masuk ke dalam universitas--sebuah lingkungan yang secara desain ada untuk menampung banyak sudut pandang dan pemahaman--akan sangat berat.

Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya, mengingat bahwa dunia itu luas (jangankan dunia, satu kota Jakarta atau Bandung pun sudah sangat luas) dan orang-orang di dalamnya memiliki pandangan yang sangat beragam. Karena itu, syok yang dirasakan ketika masuk ke dunia yang sangat beragam akan terasa cukup berat; menyadari kenyataan bahwa moral dan pemahaman yang dipegang selama ini bukan suatu pemahaman universal, melainkan satu dari sekian banyak pemahaman yang ada.

Tulisan ini sangat terbuka untuk masukan dan komentar, terutama tentang fenomena yang dijabarkan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pribadi Tentang Expectation Gap Seorang Mahasiswa Baru

Sebelum masuk ke inti tulisan ini, saya hanya ingin menyatakan bahwa saya tidak akan fokus tentang hal-hal seperti pemahaman atau pandangan ...